Senin, 03 Agustus 2009

37 TK dan PAUD Ikuti Karnaval HAN

Purbalingga - Ratusan anak dari Taman Kanak-kanak dan PAUD di kabupaten Purbalingga mengikuti karnaval dalam rangka Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2009. Karnaval diikuti oleh 37 TK dan PAUD yang ada di wilayah kecamatan Purbalingga, terdiri dari 31 TK dan 6 PAUD. Pelaksanaan karnaval mengambil start dari Alun-alun ke timur menuju ke jalan Onje, jalan DI Panjaitan ke barat, menuju jalan Jambu karang dan finish di komplek gedung Srikandi Purbalingga. Karnaval dibuka oleh Bupati Purbalingga Drs. Triyono Budi Sasongko Msi, Sabtu (25/7).

Karnaval HAN berlangsung sangat meriah, para peserta menikmati dengan riang gembira serta seluruh peserta karnaval TK dan PAUD memakai pakaian adat dan nasional. Sebagai simbol persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika.

Ketua Panitia Muntaqo Nurhadi mengatakan, kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan yang di selenggarakan dalam rangka memperingati hari anak nasional tingkat kabupaten Purbalingga, yang jatuh pada 23 Juli 2009. Karnaval diikuti oleh 31 TK dan 6 PAUD yang ada di kecamatan Purbalingga.

Ditambahkan Muntako Nurhadi, sesuai dengan tema hari anak nasional tahun 2009 saya anak Indonesia kreatif, inovatif dan Unggul untuk menhadapi tantangan di masa depan. Harapanya dengan adanya peringatan ini dapat memberikan semangat dan motivasi bagi anak-anak untuk mengembangkan dirinya, sehingga anak bangsa dapat berkembang secara optimal dalam menghadapi tantangan bangsa di masa datang. Di masa sekarang perlu adanya dorongan kepada anak, sebagai bekal menjadi penerus generasi bangsa.

Dijelaskan Muntako Nurhadi, puncak peringatan hari anak nasional rencananya akan diadakan Dialog Interaktif anak bangsa, di pendopo Dipokusumo bersama Bupati Purbalingga, tanggal 3 Agustus 2009 yang akan datang. Kegiatan ini akan diikuti oleh siswa TK, SD, SLTP dan SLTA se kabupaten Purbalingga.



Read more!

Limbah Gelang Batu Hasil Budaya Manusia Zaman Prasejarah Ditemukan di Purbalingga

PURBALINGGA, KOMPAS.com - Ahli batu mulia Sujatmiko bersama dosen dan mahasiswa Geologi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Sabtu (20/6), kembali menemukan potongan-potongan batu hasil buatan manusia zaman prasejarah di Desa Dagan, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga.

Di Purbalingga pula sepekan lalu, ahli batu mulia dan mahasiswa geologi itu juga menemukan batu penetak dan batu mulia darah Kristus berserakan di sekitar Sungai Gintung, Desa Arenan, Kecamatan Kaligondang.

Kali ini, potongan batu yang ditemukan berupa beberapa potong limbah gelang batu berbahan dasar jasper hijau yang berbentuk cakram, yang diperkirakan berasal dari zaman neolitikum atau zaman batu baru. Benda bersejarah itu ditemukan di sekitar areal persawahan dan aliran sungai.

Sujatmiko mengatakan, sejak tahun 1983, kawasan sekitar Bobotsari sudah dikenal di kalangan masyarakat batu mulia maupun arkeolog sebagai salah satu situs budaya manusia zaman neolitikum. Hal itu menyusul dilepasnya sejumlah hasil penelitian para arkeolog Indonesia tentang temuan benda-benda prasejarah di Purbalingga tahun 1980-an, salah satunya hasil peneletian arkeolog Harry Truman Simanjuntak . Namun hasil penelitian tersebut kurang dipublikasikan sehingga hanya segelintir kalangan yang mengetahuinya.

"Kedatangan kami kali ini, untuk mengeksplorasi kembali hasil temuan Truman. Kawasan mana saja di Purbalingga ini yang memiliki persebaran batu-batu peninggalan budaya manusia neolitikum," katanya.

Seperti limbah gelang batu yang ditemukan, kata Se kretaris Jenderal Masyarakat Batu Mulia ini, merupakan temuan yang sangat menarik. Hal itu menandakan kegiatan manusia masa neolitikum di Purbalingga mulai melirik ke benda-benda estetik, bukan lagi berdasarkan fungsinya. " Dari sumber-sumber arkeologi, gelang batu ini dibuat manusia prasejarah dengan menggunakan bambu dan pasir," jelasnya .

Selain menemukan limbah gelang batu, para mahasiswa Geologi Unsoed yang ikut dalam eksplorasi itu menemukan banyak batu serpih dari jasper hijau yang biasa digunakan manusia prasejarah sebagai pisau, di sekitar areal persawahan. Kami tidak perlu menggali kok. Batu itu ada di sekitar permukaan, ucap salah seorang mahasiswa.

Dengan banyaknya temuan tersebut, Sujatmiko menduga kawasan sekitar Purbalingga merupakan kawasan bengkel peralatan manusia zaman neolitikum. Hal itu diperkuat dengan temuan kapak batu jasper hijau di Kabupaten Kebumen. Sementara, kawasan Kebumen tak memiliki sumber batu jasper hijau, melainkan Purbalingga yang memilikinya cukup banyak. Bisa jadi kapak hijau di Kebumen itu hasil distribusi dari Purbalingga, ujarnya.

Namun untuk membuktikannya, menurut Sujatmiko, akan banyak hal yang harus terus dieksplorasi. Contohnya, kemana saja batu-batu itu didistribusikan. Selain itu, dimana kerangka manusia zaman neolitikum yang membuatnya. "Sebab, di Museum Purbalingga pun dipajang fosil stegodon hasil temuan warga di Purbalingga ini. Itu menandakan ada kehidupan manusia prasejarah di sini," katanya.

Begitu juga yang diutarakan dosen Geologi Unsoed, Siswandi. Menurutnya, perlu terus dicari dimana zona utama pembuatan batu-batu peninggalan prasejarah itu. "Kuat kemungkinan, serakan batu-batu itu akibat terbawa arus sungai. Karena itu perlu dicari dimana zona utamanya," katanya.

Sebagai tindak lanjut, dalam waktu dekat ini, Sujatmiko bersama tim Geologi Institut Teknologi Bandung dan Unsoed, akan menyajikan temuan mereka dalam seminar. "Bupati Purbalingga sudah siap untuk memfasilitasinya. Para ahli arkeologi juga akan ikut hadir," jelas Sujatmiko. (*)


Read more!